Sabtu, 29 Juni 2013

efek krisis, 3158 Rakyat Spanyol berkomitmen bunuh Diri

Heningnya media Sapnyol dalam menghentikan efek krisis disinyalir sebagai penyebab utama 3158 Rakyat Spanyol berkomitmen untuk bunuh diri, dimana 119 orang diantaranay adalah korban penggusuran. Spanyol adalah salah satu negara yang tetap kokoh bertahan kendati diterjang badai krisis ekonomi karena kekerasan dan kekejaman yang diperlakukan pemerintah Spanyol kepada rakyatnay, dimana unsure sosial adalah fakta yang tak dapat dieprtanyakan.Hal ini dikemukakan oleh ekonom India penulis buku “The Crack of ystem”, Raghunnam Rajam. Bukannya tanpa alasan, penyebab “kedamaian sosial” ini adalah tidak efektifnya serikat dagang dan partai-partai oposisi untuk menyebarkan efek krisis sosial yang menyebabkan hancurnya ekonomi Spanyol dan mengorbankan bansga Spanyol sendiri. Sehingga kondisi “Kedamaian Sosial” ini dibangun dari biaya pembongkaran masyarakat sipil untuk menggantikan pihak-pihak yang disubsidi serta serikat buruh didasarkan apda fakta tidak adanay solusi untuk menanggulangi krisis dan menyebabkan 3.158 orang Spanyol berkomitmen melakukan bunuh diri dan 119 diantaranya adalah korban penggusuran. Minggu ini, kejadian bunuh diri kembali terjadi di Malaga, dimana korbannya adalah Leandro CMG (36 Tahun). Leandro memutuskan membakar dirinya di depan kantor gubernur Andalusia sebagai protes atas keengganan pemerintah untuk membiayai pengobatan ibunya yang kemudian meninggal dunia. Pejabat setempat yang bertanggung jawab mengenai masalah kesehatan dan kesejahteraan, Daniel Perez yang merupakan seorang Sosialis berusaha mencuci tangannya dari masalah ini dengan mengatakan bahwa berkas yang diminta tidak pernah diselesaikan dan tidak dikerjakan denga ntepat. Sementara presiden Andalusia, Jose Antonio Grin berpendapat bahwa tidak ada catatan tentang aplikasi yang diajukan oleh Leandro. Kasus ini menciptakan perhatian baru di kalanga nmasyarakat Spanyol. Dimana kasus ini mengingatkan mereka akan kasus bakar diri yang dilakukan Mohammed Bouazizi, seorang pedagang Buah di Tunisia pada tahun 2010 yang menimbulkan gelombang revolusi besar-besaran tidak hanay di Tunisia namun juga di Mesir, Libya, Yaman dan Syria. Tindakan tidak sensitifnya elit politik Spanyol atas tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran di Spanyol sudah membuat malu Spanyol di mata dunia Internasional. Tanpa adanay kepdulian pemerintah dalam mencatat korban bunuh diri tersebut telah memancing gerakan M-15, sebuah gerakan sosial di Spanyol untuk membuak sebuah halaman di Wikipedia mengenai jumlah mereka yang mengakhiri hidupnya karena Krisis di Spanyol, dimana Leandro tidak dihitung, dan apabial dihitung maka akan membuat jumlahnya semakin meningkat. Situasi yang terjadi di Spanyol juga memperlihatkan warga mereka yang lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri ketimbang melakuakn perlawanan kepada pemerintah setempat atau menuntut pergantian rezim pemerintah di tenga hsituasi yang tidak memiliki alternative pilihan. Beberapa pergerakan sosial disana ada yang memiliki ide untuk mempublikasikan nama dan gaji politisi yang bekerja dibawah performa terbaik untuk memaksa mereka bekerja lebih giat di provinsi tempat terjadinya peristiwa bunuh diri tersebut. Dimana, hal itu juga agar mereka mempertanggung jawabkan kelalaian mereka suatu hari nanti. Kendati media dan pemerintah bungkam atas isu ini, namun bunuh diri sudah tercatat secara resmi sebagai penyebab utama tingginay tingkat kematian di Spanyol. dimana menurut Institut Statistik Nasional Spanyol mencatat terdapat 3158 kasus bunuh diri di Spanyo lpada tahun 2011 dimana penyebab utamanay adalah kemiskinan, pengangguran dan penggusuran. Daftar ini tentu sangat sulit untuk dipublikasikan, karena itu hanay beberapa media d iSpanyol yang berani meneybarkan data dan berita ini, diantaranya Third World Information dan Orebro, dua Koran yan gberani untuk menginvestigasi Drama tentang 119 orang yang melakukan bunuh diri antara Januari hingga November 2012 karena tidak sanggup membayar bunga bank. Bencana ini terjadi akibat media dipaksa bungkam oleh rezim yang berkuasa di Spanyol, dimana media telah menjadi korban keyakinan politik bahwa publikasi berita bunuh diri dapat memicu perasaan ingin meniru oleh pembaca dan pendengar yang memiliki penderitaan yan gsama dengan para korban bunuh diri tersebut.Hal ini kemudian menyebabkan sensor dan keheningan mengaburkan dampak sesungguhnya dari krisis ekonomi yang terjadi di Spanyol . Dimana dampaknya kebanyakan dialami oleh para pekerja dan kelas menengah. (Kharizma/ sumber : vdeverdadnews.com) Ribuan masyarakat Spanyol yang melakuakan aksi protes terkai t krisis dimana ribuan warga Spanyol memutuskan untuk bunuh diri sebagagi dampak krisis

Kamis, 21 Maret 2013

MENINGKATKAN NASIONALISME GENERASI MUDA DI ERA GLOBALISASI MELALUI PANCASILA



Di era globalisasi yang semuanya serba terbuka ini, tidak dapat dipungkiri bahwa segala jenis produk dari berbagai negara dapat dengan mudah memasuki sebuah negara termasuk kebudayaan. Indonesia sendiri sudah lama diserbu oleh produk-produk asing termasuk kebudayaan, dan hal-hal dari luar tersebut secara tidak langsung dan sedikti demi sedikit akan menghilangkan nasionalisme dan jati diri anak bangsa.



Masuknya kebudayaan asing tersebut adalah hal yang tidak dapat ditolak, karena kebudayaan mereka masuk melalui unsur-unsur seperti media cetak, TV, Internet dll yang sangat akrab dengan kehidupan generasi muda. Seperti halnya Gangnam Style dan Harlem Shake,jenis tarian yang popular akhir –akhir ini akibat media sosial Youtube.

Lantas bagaimana untuk mempertahankan jati diri bangsa yang terancam tergerus akibat maraknya invasi kebudayaan asing di era keterbukaan seperti sekarang. Tentu, sangat sulit kalau kita memakai strategi kebijakan presiden Soekarno di era Orde Lama yang melarang segala hal berbau asing seperti lagu dan film barat masuk Indonesia. Karena, selain zaman sudah berubah, rakyat juga berhak mendapatkan informasi dan hiburan yang tidak terbatas. Selain itu, negara-negara yang selama ini terkenal menutup diti seperti Kuba dan Korea Utara pun justru sudah mulai membuka diri mereka dengan meningkatkan kerjasama dengan dunia luar.

Maka, hal yang sudah pasti relevan untuk tetap mempertahankan nasionalisme dan jati diri bangsa kita adalah dengan membekali generasi muda kita dengan ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Mengapa Pancasila ??   karena Pancasila secara tidak kita sadari adalah bagian dari dalam diri setiap bangsa Indonesia. Ketika Founding Father kita menetapkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, para Founding Father tersebut sadar dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dibutuhkan azas yang bisa diterima setiap orang.

Pancasila sendiri sebenarnya adalah sinkretisme dari Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) yang sering didengungkan presiden Soekarno di era Orde Lama. Maka, jelas kalau ideologi Pancasila bisa dianut oleh penganut faham Nasionalisme, Agama maupun Komunis/sosialis. Dengan begitu, pancasila adalah ideologi yang universal dan tidak hanya bisa dianut oleh bangsa Indonesia, tapi juga oleh bangsa lain di seluruh dunia.

Namun, Kondisi saat ini tentu berbeda dari apa yang diimpikan oleh para Founding Father negara ini.  Kita bisa lihat generasi muda kita lebih senang menghabiskan waktunya untuk hura-hura dan terjebak dalam paradigma hedonisme.

Mereka sudah tidak lagi ingat bagaimana negara ini dulu dibuat merdeka dengan susah payah oleh para Founding father. Bahkan tidak sedikit yang jauh lebih hafal nama personil boyband Korea dan bintang Hollywood ketimbang tokoh-tokoh Nasional seperti Sutan Syahrir, M. Hatta dan Tan Malaka.

Mereka pun juga selalu membangga-banggakan produk asing dan selalu memandang sebelah mata produk dalam negeri. Kita bisa lihat anak-anak muda kita yang begitu senang bisa membeli Iphone atau Blackberry tipe terbaru. Namun, ketika ada sebuah perusahaan atau anak bangsa berinovasi membuat Handphone, maka produk tersebut akan menjadi bahan olok-olokan seperti Nexian.

 Begitu juga begitu bersemangatnya mereka menonton film-film Hollywood atau Korea bahkan sampai dibela-bela menonton di hari pertama pemutaran, namun begitu malasnya mereka menonton film Indonesia karena menganggap film Indonesia tidak cukup bagus ditonton, padahal Film-film Indonesia sendiri juga banyak yang berkualitas bahkan diakui dunia Internasional seperti film Laskar Pelangi atau A Lovely Man. Namun, mereka beranggapan semua film Indonesia itu film pocong dan kuntilanak sehingga semuanya disamaratakan.

Inilah yang harus kita benahi, dimana anak bansga kita terutama generasi muda harus jauh lebih bangga dengan produk negara sendiri ketimbang produk bangsa luar. Kita bisa lihat bangsa Jepang, Korea atau India yang bisa memiliki produk menembus dunia karena warganya bangga akan produk dalam neegri, walaupun kualitasnya terkadang di bawah produk asing.

Orang India begitu bangga dengan mobil Tata ketimbang Mercedes-Benz begitupun dengan orang Korea yang lebih bangga memakai Samsung dan LG ketimbang Telepon Seluler lain seperti Nokia dan Apple. Jepang bahkan sampai menerapkan politik dumping agar bangsa mereka bangga dengan produk buatan dalam negeri.
Pancasila sebagai lambang negara
Pancasila sendiri dalam hal ini bisa digunakan sebagai media untuk meningkatkan jati diri dan nasionalisme generasi muda Indonesia. Dengan menghayati setiap makna sila-sila yang terdapat dalam pancasila maka mereka akan menjadi sadar bahwa betapa bangganya mereka sebagai bangsa Indonesia karena menemukan sebuah konsep yang bisa dianut oleh setiap manusia.

Konsep ketuhanan yang maha esa adalah konsep yang dianut kaum agamis/relijius, kemudian persatuan Indonesia yang dianut kaum Nasionalis, kemudian kerakyatan yang dipimpin secara hikmah dan bijaksana melalui permusyawaratan perwakilan dianut oleh kaum demokratis dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dianut oleh kaum komunis/sosialis. Sedang kemanusiaan yang adil dan beradab dianut oleh semua golongan tanpa kecuali.

Dengan menghayati makna dari sila tersebut, maka akan muncul kebanggaan dari diri setiap generasi muda karena bangsa mereka ternyata bukanlah bangsa yang selama ini mereka sepelekan, namun sebuah bangsa yang besar dengan sejarah yang besar. Kita tahu Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup disegani oleh dunia international di kala Presiden Soekarno masih berkuasa, selain itu luas negara ini yang membentang dari Sabang sampai Merauke ternyata setara dengan luas London hingga Teheran. Sehingga, negara kita selalu tampak dipeta serta banyaknya suku bangsa dan kebudayaan membuat bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya.

Maka dengan kesadaran tersebut, pemuda kita akan menjadi memiliki rasa bangga akan Indonesia, bahkan bisa jadi mereka akan lebih senang menggunakan produk Indonesia dengan terus berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru untuk negara ini. Begitupun dengan bangga akan membeli setiap hasil inovasi anak bangsa dalam bentuk apaun baik teknologi maupun seni. Semoga dengan hal ini, nasionalisme generasi muda Indonesia tetap terjaga kendati mereka terus digempur oleh produk asing di era keterbukaan ini.


Rabu, 23 Januari 2013

Diplomasi Perdamaian Israel - Palestina



Israel dan Palestina adalah dua negara yang terus berkonflik hingga 1948 hingga saat ini. Dan konflik kedua negara ini diperkirakan akan berlangsung lama. Berbagai perundingan suadah mereka lalui. Mulai dari Partition Plan 1947 hingga Annapolis, namun tidak ada satupun yang mampu menemukan titik temu dari masalah dua negara tersebut. Akar mula dari permasalahan ini adalah ketika menlu Inggris, James Balfour pada tahun 1917 memutuskan untuk mendirikan sebuah wilayah Yahudi di wilayah Arab, hal yang ditentang oleh negara Arab.
Namun paham Zionis yang berkembang membuat ribuan umat Yahudi dari pelosok Eropa mendatangi tanah Palestina paska Perang Dunia II dengan harapan bahwa tanah di Palestina adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Namun, hal ini tentu saja ditolak bansga Arab. Apalagi kedatanagn bangsa Yahudi tersebut membuat ribuan warga Palestina mengungsi dan terusir dari negaranya sendiri.
PBB Sendiri sebenarnya sempat mengeluarkan solusi yang cukup adil yaitu dengan membagi wilayah tersebut dalam dua bagian dengan Jerrusalem yang menjadi pusat konflik sebagai kota International. Namun, partition Plan ini tidak pernah berjalan, pasalnya tiga hari kemudian Israel justru mendeklarasikan berdirinya negara Israel dengan David Ben Gurion sebagai presidennya.
Pendirian negara Israel ini sendiri memancing kemarahan negara-negara Arab yang kemudian mendeklarasikan perang pada tahun 1948 – 1967 yang dimenangi Israel dengan bantuan Amerika Serikat.
Namun, walaupun sampai hari ini belum ada kesepakatan damai antara kedua negara. Sudah banyak berbagai perundingan yang dilaksanakan oleh kedua negara. Perundingan pertama yang dilaksanakan adalah Konferensi Madrid tahun 1991 yang juga menjadi perundingan pertama antara kedua negara yang difasilitasi pemerintah Spanyol serta didukung A.S. dan Uni Sovyet.
Dalam proses negosiasi ini, Israel membuat Revokasi dari Resolusi PBB no. 3379 sebagai partisipasi mereka dalam konferensi sebagai kelanjutan dari resolusi no.46/86. Israel sendiri menyatakan konferensi ini sangat penting, karena apabila Israel berhasil berdamai dengan palestina maka akan berpengaruh terhadap hubungan diplomatik mereka dengan negara lain terutama negara Muslim dan Timur Tengah.
Namun perundingan yang dimaksudkan dengan baik ini berjalan dengan alot dan pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa selain kekecewaan dari kedua belah pihak baik Israel maupun Palestina. Namun walau tidak menghasilkan apa-apa, Sekretaris negara Amerika Serikat, James Baker memandang positif konferensi ini sebagai langkah awal menuju perdamaian di Timur Tengah.
Namun dua tahun kemudian perundingan damai kedua negara kembali dilakuakn di Oslo dengan nama Oslo Accord 1993. Dalam perundingan Oslo tersebut pimpinan PLO Yasser Arafat dan PM Israel, Yitzhak Rabin hadir difasilitasi oleh Bill Clinton.
Dalam kesepakatan ini kedua negara sepakat untuk berdamai dan mengakui kedaulatan masing-masing. Israel akan mengakui PLO sebagai otoritas berkuasa di Palestina serta mengizinkan Yasser Arafat kembali ke Tepi Barat, serta menghilangkan kekerasan diantara kedua belah pihak. Namun, perjanjian yang sudah bagus dan damai ini justru dirusak oleh kelompok ekstrim kanan Israel yang sangat Zionis. Pada akhirnya kesepakatn ini tidak berjaan bahkan PM Yitzhak Rabin harus tewas ditangan Ekstremis Yahudi karena menyetujui kesepaktan ini. Sehingga perundingan yang sudah berjalan terpaksa batal karena arogansi Parlemen Israel yang rata-rata menganut paham Zionis.
 Mandeknya Oslo Accord ini kemudian berlanjut ke Protokol Hebron pada tahun 1997. Protokol ini sendiri dibagi dalam 5 segmen. Yaitu :
1.      The Agreed Minute of January 7, 1997
2.      The Note for the Record of January 15, 1997
3.      The actual Protocol Concerning the Redeployment in Hebron of January 17, 1997
4.      A Letter to be provided by US Secretary of State Warren Christopher to Benjamin Netanyahu at the time of signing of the Hebron Protocol on January 17, 1997
5.      An Agreement on Temporary International Presence in Hebron (TIPH) on January 21, 1997
Dalam perundingan ini, Israel berkonsentrasi pada masalah pembebasan tahanan serta pembagian batasan wilayah. Serta menuntut wilayah yang lebih luas. Sedang PLO yang mewakili Palestina meminta kelanjutan dari palestina Charter serta pengurangan tingkat kekerasan yang dilakukan oleh Israel.
Setelah Protokol Hebron. Perundingan dilanjutkan pada tahun 2000 bertempat di Camp David, A.S. tempat dimana Israel melaksanakan perjanjian damai dengan Mesir. Dimana, diharapkan masalah Israel – Palestina akan selesai layaknya masalah Israel – Mesir. Dalam negosiasi ini, Israel diwakili PM Ehud Barak, sedang PLO Diwakili Yasser Arafat dan Amerika Serikat memediasi diwakili Presiden Bill Clinton.
Yang menjadi topic bahasan dalam Camp David Summit ini menyangkut empat hal yaitu :
1.      Teritorial
2.      Jerrusalem dan Temple Mount
3.      Pengungsi dan hak untuk kembali
4.      Perhatian terhadap keamanan Israel
Namun, lagi-lagi kesepakatan ini menemui jalan buntu karena baik Israel maupun Palestina sama-sama tidak mencapai titik kepuasan sendiri. Palestina merasa kurang mengeai Masalah Teritori dimana mereka hanay diberikan wilayah yang hingga saat ini hanya Tepi Barat dan Gaza. Sedang Israel menginginkan wilayah lebih. Barak menawarkan Palestina 91% wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat plus control atas jerrusalem Timur yang akan menjadi ibukota mereka.Namun Palestina menuntut perbatasan seperti sebelum tahun 1967, dimana ketika itu wilayah Palestina berjumlah 2 kali lipat wilayah yang ditawarkan Israel. Namun, Menlu Israel Shlomo Ben Ami menolak perbatasan seperti sebelum 1967, karena meraa Israel berhak atas teritori yang lebih. Dan mandeknya perundingan ini, membuat Bill Clinton menyalahkan Arafat dengan ucapan bahwa Arafat menolak perdamaian.
Namun kendati gagal menemukan titik temu perdamaian setidaknya ada beberapa poin yang berhasil dicapai. Yaitu :
1.Kedua belah pihak sepakat bahwa tujuan negosiasi mereka adalah untuk mengakhiri dekade konflik dan mencapai perdamaian yang adil dan abadi.
 2. Kedua belah pihak berkomitmen untuk melanjutkan upaya mereka untuk mencapai kesepakatan tentang semua isu status permanen secepat mungkin.
 3. Kedua belah pihak sepakat bahwa perundingan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 242 dan 338 adalah satu-satunya cara untuk mencapai suatu perjanjian dan mereka berjanji untuk menciptakan lingkungan untuk negosiasi bebas dari tekanan, intimidasi dan ancaman kekerasan.                                     4. Kedua belah pihak memahami pentingnya menghindari tindakan sepihak bahwa sebelum memeriksa hasil negosiasi dan bahwa perbedaan mereka akan diselesaikan hanya dengan negosiasi itikad baik.
5. Kedua belah pihak sepakat bahwa Amerika Serikat tetap menjadi mitra penting dalam mencari perdamaian dan akan terus berkonsultasi erat dengan Presiden Clinton dan Sekretaris Albright pada periode ke depan.
                Setidaknya dengan tercapainya hal diatas ada itikad dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik dengan jalan damai, walau pemerintah Zionis sendiri dengan egonya menolak apa ayng sudah diperjanjikannya.
                Perundingan kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Taba, Mesir yangdisebut sebagai Taba Summit pada tanggal 21 – 27 Januari 2001. Masalah yang dibahas dalam perundingan Taba sendiri tidak jauh berbeda mulai dari teritori, pengungsi hingga keamanan.
                Pertemuan ini sendiri menghasilkan beberapa hal yang pada akhirnya dijadikan landasan pada pertemuan berikutnya, yaitu :
# Yerusalem: negosiator Israel disampaikan kepada Palestina gagasan untuk menciptakan sebuah rezim internasional khusus untuk "Cekungan suci" - sebuah daerah termasuk Kota Tua dan beberapa daerah di luar tembok termasuk makam Bukit Zaitun. Palestina menolak proposal itu, bersikeras pada kedaulatan Palestina sebagai gantinya.

# Wilayah dan permukiman: Israel mengurangi tuntutannya sampai 6% dengan kompensasi teritorial yang akan mengimbangi sekitar 3%, sedangkan Palestina mengusulkan pencaplokan Israel dari sekitar 3% bersama dengan kompensasi teritorial jumlah yang sama. Usulan Israel akan memberi Palestina sekitar 97% dari luas tanah Tepi Barat, tapi tidak ada kesepakatan akhir.

# Pengungsi komite: pengungsi Arab dari Israel dan jumlah yang sama pengungsi Yahudi dipaksa keluar dari negara-negara Arab, masalah dating kembali ke 1948 Perang Arab-Israel. Menteri Kehakiman Israel Yossi Beilin melaporkan bahwa perunding Palestina Nabil Sha'ath, mencapai kesepakatan mengenai hak Palestina Ahmed Qurei kembali namun bersikeras pada Palestina 'Hak Kembali.
                Mentoknya perundingan membuat perundinga nkembali dilanjutan pada tahun 2007 di Annapolis, dimana kondisinya saat itu sudah berubah pada masa itu, Hamas, kelompok Radikal di Palestina memenangi Pemilu. Dimana Hamas sangat menolak bentuk negosiasi apapun dengan Palestina. Perwakilan Palestina di pertemuan Annapolis sendiri adalah PM Palestina versi Fatah, Mahmoud Abbas bukan Ismail Haniyah yang merupakan PM Palestina sebenarnya.
                Dalam konferensi Annapolis ini tidak ada hal baru yang bsia dihasilkan selain mengakui Mahmoud Abbas sebagai pemimpin otoritas Palestina. Dan semakin memecah Palestina menajdi dua yaitu Tepi Barat oleh Fattah dan Jalur Gaza oleh Hamas.
Permasalahan Israel – Palestina sendiri akan sangat sulit untuk selesai karena selain masalah ideology. Masalah tanah dan sumber air juga diyakini sebagai penyebab sulitnya masalah ini selesai. Paham Zionis yang menginginkan Israel sebesar Wilayah mereka di era nabi Ibrahim dari Sungai Eufrat hingga Tigris diduga menjadi penyebab sulitnya proses negosiasi. Dimana proses negosiasi selalu berat sebelah dan menguntungkan Israel serta merugikan Palestina.
Sehingga proses perundingan ini sendiri akan selalu mengalami proses tarik ulur karena titik temu tidak  dapat tercapai dan pihak Israel sebagai pihak yang kuat selalu memaksakan kehendaknya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kesepakatan yang baik adalah bilamana konsensi yang dibuat oleh salah satu pihak tidak berlawanan dengan kepentingan pihak lainnya.Namun yang terjadi dalam kasus Israel – Palestina justru sebaliknya dan selalu merugikan satu pihak yaitu Palestina sehingga diharapkan kerendahan hati dari Israel apabila proses negosiasi damai ingin tercapai.

cHINA fOREIGN pOLICY



  • Cina sejak Deng Xiaoping. Deng Xiaoping, also Teng Hsiao-p’ing (1904-1997), Chinese Communist leader, who survived two purges to become virtual ruler of post-Mao China. He was born into a family of landlords in Jiading (Chia-ting), Sichuan (Szechwan) Province, studied in France and Moscow during the 1920s, and after his return to China served the Communist Party in various capacities, joining Mao Zedong in Jiangxi by 1930 and participating in the Long March in 1934-1935. During China’s struggle against Japanese aggression (1937-1945), Deng served as a political commissar with the army, being elevated to the Communist Party’s Central Committee in 1945.
After the collapse of the Nationalist regime and the establishment of the Communist government in 1949, Deng moved up rapidly in the Communist hierarchy under Mao’s patronage, serving as vice-premier (1952) and General Secretary of the Chinese Communist Party (1956-1966). Deng distinguished himself as a pragmatist in opposition to Mao’s advocacy of revolutionary zeal, especially after the disastrous failure of Mao’s Great Leap Forward, and was therefore exposed to radical attacks during the Cultural Revolution. Stripped of office during the Cultural Revolution in late 1966, he disappeared from view until Zhou Enlai made him deputy premier in 1973. On Zhou’s death early in 1976, Mao’s radical allies, the Gang of Four, had Deng purged again, but after Mao’s death and their fall later that year, he was reinstated by Hua Guofeng in 1977. He edged Hua out of power, installed his protégés Zhao Ziyang and Hu Yaobang in high office, and began his campaign for the redevelopment of China.
Deng’s reforms were generally economic and social, aimed at encouraging initiative and growth, and achieved through persuasion and consensus. He rationalized economic planning, freed enterprises from state control, and reinstated profit as the guiding principle of economic life. His overall aim was to strengthen and stabilize China, thus securing Communist rule. China joined the International Monetary Fund and the World Bank in 1980; special enterprise zones and other initiatives were established to attract foreign investment. Deng’s official appointments as chairman of the party’s Central Military Commission (1981-1989) and of the party’s Central Advisory Commission (1982-1987) disguised his true position, though his control of the military was decisive for his leadership. In foreign policy, he developed close ties with Japan and the United States as a counterbalance to the Soviet Union.
Deng’s policies produced rapid economic development, but also unleashed unforeseen social turmoil and political aspirations, as it became clear that he had no intention of compromising the Communist Party’s absolute power. Deng personally approved the bloody massacre that ended the mass pro-democracy demonstrations in Tiananmen Square in 1989, and purged his one-time protégé Zhao Zhiyang, who had proved too sympathetic towards the pro-democracy movement. Deng resigned from his last official post in November 1989, but retained paramount authority, continuing to promote growth under the slogan “to grow rich is glorious”, while suppressing democratic aspirations and preserving the Communist monopoly of power under political conservatives such as Li Peng. After 1989, China’s economic boom continued, as did an apparent haemorrhaging of central authority to the regions, and the political calm of this period was evidently the result of present or implied force, ultimately underwritten by Deng’s own links with the military. He continued to support rapid economic expansion, especially in China’s provinces, while he was able to conduct active policy; but in the mid-1990s, suffering from respiratory ailments and Parkinson’s disease, he increasingly slipped from public view, amid reports of jockeyings for power among younger Communist leaders such as Li Peng and Jiang Zemin. Having installed Jiang as his heir apparent, Deng died on February 19, 1997, after a long period of illness.